Selasa, 19 April 2011

SELEKTIVITAS ALAT TANGKAP BUBU TAMBUN TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PASIR (Pentapodus trivittatus) Oleh Fahrul Rozi (C44080024)


1. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
       Bubu tambun adalah bubu berbentuk kurungan yang terbuat dari anyaman bambu, dengan mulut berbentuk corong. Penamaan bubu tambun oleh nelayan karena pada saat pengoperasiannya bubu tersebut ditimbun oleh batu karang, dengan maksud agar ikan tertarik untuk masuk ke dalam bubu. pada bagian pintu pada bubu tambun bahan pembuatnya adalah tali PE yang dililitkan di sekitar pintu bubu.
 Keberadaan bambu sebagai bahan dasar bubu tambun belum dapat digantikan oleh bahan lain sampai sekarang. Pertimbangan lain penggunaan bahan bambu adalah karena harga bambu yang murah di bandingkan besi (kawat).
Bubu tambun yang digunakan nelayan biasanya berukuran besar dan kecil. Perbedaan terlihat dari perbandingan panjang dan lebar bubu serta ukuran mulut bubu. Perbedaan ukuran bubu yang digunakan nelayan bubu ini disebabkan karena adanya perbedaan daerah penangkapan. Perbedaan ukuran bubu tersebut menyebabkan semua ikan yang berukuran kecil maupun besar masuk ke dalam bubu. Salah satu upaya untuk mencegah ikan kecil tertangkap maka perlu di buat celah pelolosan (escape gap).
Celah pelolosan (escape gap) merupakan celah yang dibuat pada bubu dengan letak, ukuran dan bentuk tertentu. Escape gap ini berfungsi sebagai tempat ikan untuk meloloskan diri yang tidak menjadi target penangkapan. Escape gape berpengaruh terhadap hasil tangkapan yang layak tangkap di tinjau dari segi biologis maupun segi ekonomis

1.2  Tujuan
       Mengetahui selektivitas bubu dengan escape gap dan tanpa escape gap

1.3  Manfaat
ü  Agar kita mengetahui perbandingan ukuran hasil tangkapan dengan escape gap dan tanpa escape gap
ü  Agar kita mengetahui keunggulan dan kelemahan bubu yang menggunakan escape gap dan tanpa escape gap berdasarkan ukuran hasil tangkapan 


                                                                 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Ikan Pasir (Pentapodus trivittatus)
Ikan pasir mempunyai duri punggung berjari-jari keras 10, duri punggung lunak  9, duri anal  3, duri anal berjari-jari lunak  7. Terdapat sisik kepala di depan atau hanya di depan pinggiran anterior mata. Pada preoperkulum bagian bawah terdapat 2 atau 3 baris sisik. Sirip perut agak panjang, hampir mencapai anus. Warna tubuh abu-abu gelap atau coklat zaitun, putih keperakan di bagian bawah. Terdapat garis mata sedikit keperakan bercampur putih di moncong tepat di belakang hidung. Dasar sirip dada berupa garis-garis hitam (Fish Base, 2010). Makanannya terdiri dari ikan-ikan kecil. Ikan ini umumnya ditemukan di daerah dangkal berpasir dan daerah terumbu karang. Biasanya membentuk schooling.

2.2    Deskripsi Alat Tangkap
       Bubu adalah alat tangkap yang digolongkan dalam klasifikasi perangkap yang memudahkan ikan memasukinya dan menyulitkan ikan untuk keluar (Von brandt, 1984). Bubu mempunyai satu atau dua buah pintu masuk dan dapat dioperasikan dengan perahu atau tanpa perahu (Rumanjar, 2001). Rounsefell dan Everhart di acu dalam Rumanjar (2001) menyatakan bubu sebagai alat tangkap yang efektif untuk menangkap organisme yang bergerak lambat di dasar perairan baik di laut maupun di danau.
Bubu tambun merupakan salah satu alat tangkap bubu yang digunakan untuk menangkap ikan karang. Alat tangkap ini termasuk ke dalam klasifikasi bubu dasar karena dioperasikan di dasar perairan karang. Bahan pembuat bubu tambun hampir seluruhnya terbuat dari anyaman serutan bambu yaitu bagian mulut dan badan bubu. Secara umum alat tangkap ini  terdiri dari beberapa bagian yaitu badan, mulut dan pintu. Badan bubu yang berongga merupakan tempat terkurungnya ikan. Mulut bubu atau sering disebut ijeb berbentuk seperti corong yang merupakan pintu agar ikan masuk ke dalam bubu dan tidak keluar. Pintu bubu merupakan bagian untuk mengambil hasil tangkapan (Subani dan Barus, 1989).
       Bubu dapat di buat dari berbagai macam bahan . Menurut Subani dan Barus (1989) bubu dapat dibuat dari anyaman bambu, anyaman rotan atau anyaman kawat. Dalam martasuganda (2003) terdapat bubu yang terbuat dari batang bambu, paralon, waring, anyaman bambu, keramik.

2.3    Klasifikasi
       Subani dan Barus (1988), membagi bubu ke dalam tiga golongan, yaitu bubu dasar (ground fishpot), bubu apung (floating fishpot), dan bubu hanyut (drifting fishpot).
        a) Bubu Dasar (ground fishpot)
               Bubu dasar merupakan bubu yang diopersikan di dasar perairan. Ukuran bubu dasar bervariasi dan dibuat berdasarkan kebutuhan. Menurut ukurannya, bubu dasar digolongkan kedalam dua kelompok, yaitu bubu kecil dan bubu besar. Bubu kecil umumnya berukuran panjang 1 m, lebar 0.50-0.75 m, dan tinggi antara 0.25-0.30 m. Adapun bubu besar dapat mencapai ukuran panjang 3.5 m, lebar 2 m, dan tinggi 0.751 m. Bubu dasar dioperasikan di perairan karang, berpasir atau berlumpur. Nelayan biasanya melengkapi bubu dengan pelampung tanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan menemukan bubu ketika akan dilakukan hauling,  yang termasuk ke dalam bubu dasar misalnya, bubu tambun.

        b)  Bubu Apung (Floating Fishpot)
      Bentuk bubu apung ada yang silindris dan ada pula yang berbentuk seperti kurung-kurung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu. Dalam  pengoperasiannya ada pula bubu yang diikatkan pada rakit bambu, kemudian rakit bambu tersebut dirangkai dan diikatkan pada jangkar. Panjang tali jangkar tergantung dari kedalaman perairan, namun panjang tali pada umumnya 1.5 kali dalam perairan.

    c)  Bubu Hanyut (Drifting Fishpot)
      Dalam operasional penangkapannya bubu ini dihanyutkan, sehingga dinamakan bubu hanyut. Bubu hanyut yang umumnya dikenal dengan sebutan “pakaja”, “luka”, atau “patorani”. “Pakaja” atau “luka” artinya sama yaitu “bubu”, sedangkan “patorani” karena ia dipergunakan untuk menangkap ikan “torani”, “tuingtuing”, atau ikan terbang (flying fish). Pakaja merupakan bubu ukuran kecil, berbentuk silindris dengan panjang 0.75 m. Pada saat operasi penangkapan dilakukan, bubu ini disatukan menjadi beberapa kelompok.

2.4  Konstruksi bubu
       Konstruksi bubu yang digunakan oleh nelayan merupakan warisan turun   
 temurun. Selain itu, ada juga kontruksi yang merupakan hasil introduksi dari nelayan  
 asing. Konstruksi ini disesuaikan dengan karakteristik daerah penangkapan dan
 tingkah laku ikan yang menjadi target tangkapan.
Schlack dan Smith (2001) menyatakan bahwa bubu terdiri dari:
   a) Rangka
                Rangka dibuat dari material yang kuat dan dapat mempertahankan bentuk bubu ketika dioperasikan dan disimpan. Pada umumnya rangka bubu dibuat dari besi atau baja. Namun demikian dibeberapa tempat rangka bubu dibuat dari papan atau kayu.  Rangka beberapa jenis bubu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dilipat ketika bubu tersebut tidak dioperasikan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah ketika bubu tersebut disimpan di atas kapal. Beberapa jenis bahan seperti bamboo digunakan sebagai rangka pada bubu loster (Brandt, 1984). Di Indonesia bubu untuk menangkap ikan karang sebagian besar terbuat dari besi, karena biasanya untuk menangkap ikan karang diperlukan bubu dengan ukuran besar. Bahkan untuk bubu tambun, hampir seluruhnya terbuat dari bamboo (Susanti, 2005).

   b) Bahan
           Bahan yang digunakan oleh nelayan untuk membuat badan bubu sangat tergantung pada ketersediaan bahan pembuat di lokasi pemukiman nelayan. Di Indonesia bubu masih banyak yang terbuat dari bahan alami seperti bambu, kayu, maupun rotan. Hal ini terlihat pada bubu tambun yang bahan utamanya adalah bambu (Nugraha, 2008). Selain bahan alami, bahan sisntetis juga digunakan dalam membuat bubu.
 Badan bubu banyak yang terbuat dari jaring, kawat yang dianyam, bahkan ada yang terbuat dari plastik. Adapun rangka bubu umumnya terbuat dari baja atau besi (Sainsbury, 1996). Bubu yang terbuat dari kawat pada umumnya berukuran relatif lebih besar jika dibandingkan dengan bubu yang terbuat dari jaring. Hal ini dikarenakan target tangkapan bubu ini merupakan ikan-ikan dasar yang berukuran besar yang ada di daerah karang.
Baskoro (2006) menambahkan bahwa banyak jenis bahan atau material yang digunakan untuk membuat bubu, hal ini tergantung dari tujuan penangkapan dan juga dimana perangkap tersebut akan dioperasikan. Bahan atau material yang umum digunakan untuk membuat bubu adalah bambu, rotan, kawat, jaring, tanah liat, plastik dan lain sebagainya.
 Untuk bubu laut dalam biasanya digunakan rangka berupa besi massif (kokoh). Hal ini bertujuan agar bubu dapat bertahan dengan baik selama dioperasikan di dalam air. Karena sebagaimana kita ketahui keadaan arus di dasar perairan relatif lebih kuat dari pada di perrmukaan. Dewasa ini, penggunaan material bubu yang ramah lingkungan sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko ghost fishing akibat hilangnya alat tangkap ketika dioperasikan.

    c) Badan
            Badan pada bubu yang modern biasanya terbuat dari kawat, nylon, baja, bahkan plastik. Pemilihan material badan bubu tergantung dari kebudayaan atau kebiasaaan masyarakat setempat, kemampuan pembuat dan ketersediaan material, serta biaya dalam pembuatan. Selain itu, pemilihan material tergantung pula pada target hasil tangkapan dan kondisi daerah penangkapan. Dibeberapa tempat masih dijumpai badan bubu yang terbuat dari anyaman rotan dan bambu.

    d) Mulut
     Salah satu bentuk mulut pada bubu adalah corong. Lubang corong bagian dalam biasanya mengarah ke bawah dan dipersempit untuk menyulitkan ikan keluar dari bubu. Jumlah mulut bubu bervariasi ada yang hanya satu buah dan ada pula yang lebih dari satu.

2.5  Selektivitas
       Selektivitas alat tangkap di definisikan sebagai kemampuan alat tangkap untuk menangkap ikan dengan spesies tertentu dan ukuran tertentu (Kitahara, 1970). Namun, sulit menentukan alat tangkap yang dapat menyeleksi spesies berdasarkan ukuran karena variasi berbagai jenis ikan yang sangat tergantung kepada kelimpahan, habitat, distribusi ikan dan jenis alat (Lokkerberg and Bjordal,1992). Oleh karena itu, selektivitas alat tangkap harus ditekankan kepada ukuran ikan yang tertangkap (size selectivity) (Millar and Fryer, 1999 ; Millar and Walsh, 1992 ; Millar and Holst, 1997). Willeman et al (1996) dan Hamley (1975) mendeskripsikan bahwa selektivitas adalah proporsi ikan pada spesies dan populasi tertentu yang tertangkap pada ukuran tertentu. Untuk meningkatkan selektivitas tersebut dapat di gunakan escape gap pada alat tangkap tersebut, dimana escape gap tersebut harus memiliki kriteria, yaitu :
ü  Mengurangi hasil tangkapan yang berukuran kecil
ü  Hasil tangkapan ekonomis tidak menurun secara signifikan
ü  Tidak memerlukan biaya besar
Kegunaan dari escape gap tersebut dalam selektivitas adalah :
ü  Mengurangi hasil tangkapan sampingan
ü  Memperbaiki stok sumberdaya
ü  Mengurangi waktu penyortiran
ü  Mencegah timbulnya embargo pada produk perikanan

2.6  Faktor-faktor selektivitas
       Perbedaan selektivitas alat tangkap di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor external dan faktor internal. Faktor external adalah faktor di luar alat tangkap yang berperan dalam menentukan selektivitas alat tangkap diantaranya adalah bentuk tubuh ikan dan tingkah laku ikan sedangkan faktor internal adalah faktor-faktor pada alat tangkap yang menentukan selektivitas alat tangkap tersebut. Faktor- faktor internal tersebut terdiri dari :
a)    Ukuran Mata Jaring (Mesh Size)
     Ukuran mata jaring sering digunakan sebagai instrumen untuk menyeleksi ikan berdasarkan ukuran. Dalam penelitian mengenai selektivitas alat tangkap L50 merupakan parameter penting yang menunjukkan ukuran spesies yang tertangkap. Makna L50 adalah bahwa peluang tertangkapnya spesies yang mempunyai panjang L pada alat tangkap dengan mata jaring tertentu adalah 50%. Parameter ini di gunakan untuk menilai kelayakan sebuah alat tangkap dengan ukuran mata jaring tertentu untuk menangkap ikan.

b)     Bentuk Mata Jaring (Mesh Shape)
     Bentuk mata sebuah jaring di tentukan oleh hanging ratio (Prado,1990). Hanging ratio sebuah mata jaring berkisar 0 sampai 1. Pada umumnya bentuk mata jaring adalah seperti permata (diamond shaped) dengan hanging ratio 0,3-0,6. Saat ini bentuk mata jaring beraneka ragam seperti bentuk kotak (square mesh), empat persegi panjang (rectangular shape) maupun hexagonal (Bohnsack et al, 1989 ; Miller, 1995). Bentuk mata jaring di gunakan sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi hasil tangkapan spesies yang berukuran kecil.

c)      Celah Pelolosan (Escape gap)
     Pada penangkapan berbagai jenis ikan karang untuk tujuan komersil mempunyai ukuran panjang dan lebar minimum yang legal sesuai dengan peraturan. Meskipun begitu masih banyak menghasilkan hasil tangkapan di bawah ukuran yang boleh di tangkap sehingga harus di kembalikan ke perairan. Hasil tangkapan yang masih di bawah ukuran dapat kehilangan anggota tubuhnya, kedapatan menderita, dapat mengurangi perkembangan pertumbuhannya dan dapat meningkatkan angka kematian. Permasalahan ini dapat di kurangi dengan bantuan escape gap (Treble et al, 1997).
Escape gap merupakan celah yang diguanakan oleh spesies untuk meloloskan diri. Celah ini juga berfungsi mengurangi hasil tangkapan yang kecil tertangkap, meningkatkan jumlah tangkapan spesies yang berukuran komersil dan mengurangi kerusakan anggota tubuh (Brown, 1982).

                                                                 3. METODOLOGI

3.1    Pengambilan Data
       Pada percobaan alat tangkap bubu, pengambilan data dilakukan dengan menggunakan bubu yang mempunyai dimensi yang sama (ukuran mulut dan konstruksi) sedangkan perbedaannya terletak pada ukuran mata jaring yang digunakan atau keberadaan celah pelolosan. Bubu dengan ukuran mesh size lebih kecil maupun tanpa celah (apabila penelitian dilakukan untuk menganalisa selektivitas bubu dngan celah pelolosan) berfungsi sebagai alat tangkap kontrol sedangkan bubu dengan mesh size lebih besar maupun bubu dengan celah pelolosan berfungsi sebagai alat uji coba (tested gear)



 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1    Hasil
Berdasarakan total ikan pasir yang tertangkap maka dapat dilihat bahwa persentase ikan pasir yang banyak tertangkap adalah ikan pasir yang berukuran  19 cm yaitu sekitar 23,1 %.
Tabel 1
Panjang
jumlah hasil
cover net
cod end
total
12,63
9
0
9
13,76
4
0
4
14,89
26
0
26
16,02
55
3
58
17,15
64
23
87
18,28
55
64
119
19,41
39
123
162
20,54
17
110
127
21,67
1
75
76
22,8
0
34
34
23,93
0
0
0
Total
270
432
702
Persentase
100
97,41
98,85
Tidak layak tangkap
7
0
7

Berdasarkan data diatas kita dapat melihat bahwa peluang tertangkapnya ikan yang beukuran 19 adalah adalah 50 %, ikan yang mempunyai ukuran 18 cm mempunyai peluang tertangkap 25% dan ikan yang mempunyai ukuran 20 cm mempunyai peluang tertangkap 75% dan jika dibandingkan dengan total ikan yang banyak tertangkap yaitu pada ikan yang berukuran 19 cm maka dapat dibuktikan bahwa proporsi hasil tangkapan sesuai dengan selektivitas.

4.2 Pembahasan
            Berdasarkan tabel  1 kita dapat melihat persentase ikan terbanyak tertangkap berbagai ukuran adalah ikan yang di tangkap menggunakan bubu tanpa escape gap. Dimana jumlah tangkapan pada bubu dengan escape gap adalah 432, tanpa escape gap 270 dan total hasil tangkapan adalah 702 dan total ikan tidak layak tangkap pada bubu tanpa escape gap adalah 7 ekor. 


DAFTAR PUSTAKA
Iskandar, M.D. 2010. Penuntun Praktikum Teknologi Alat Penangkapan Ikan.       Departemen Pemanfaatan sumberdaya Perikanan. Institut Pertanian Bogor.
Martasuganda, Sulaeman.2003. Bubu (Traps). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Institut  Pertanian Bogor.
Miller, R.J. 1990. Effectivness af Crab and Lobster Traps. Can. J. Fish. Aquat. Sci., 47:1228-1251.
Monintja, D.R, M.F.A, Sondita, C. Nasution, H.R. Barus, W. Mawardi, dan Zulkarnain. 1999. Studi Alat Tangkap Berwawasan Lingkungan. Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. (Tidak dipublikasikan), Bogor. 61 hal.
Sparre, Per and E. Ursin. 1989. Introduction to Tropical Fish Stock Assessment Part I-Manual. FAO of The United Nation. Rome
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol II No.2. Jakarta : Balai Riset Perikanan Laut, Departemen Pertanian.
Von Brandt, A. 1984. Fish Catching Methods of The World. Fishing News Books. Ltd, London. 190 hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar